Ramadan belum mulai, tapi timeline media sosial sudah “panas”. Sebuah video viral beredar di Facebook dan X (Twitter), menampilkan narasi yang sangat emosional: mahasiswa diklaim menolak keras program Makan Bergizi Gratis (MBG) tetap berjalan selama bulan puasa.
Narasi dalam video itu terdengar heroik sekaligus agamis: “Sejak kapan negara mengajarkan warganya makan diam-diam? Sekolah bukan tempat sembunyi… Puasa itu wajib loh Pak!”
Video ini sukses memancing amarah netizen. Ribuan share dan komentar pedas bermunculan, menuduh pemerintah tidak peka dan melecehkan ibadah.
Tapi, tunggu dulu. Sebelum jempol Anda ikut menari di kolom komentar, mari kita Cek Waras. Benarkah itu suara hati mahasiswa, atau sekadar olahan kecerdasan buatan (AI) yang didesain untuk memprovokasi?
Fakta: 88% Rekayasa AI
Tim pemeriksa fakta (Mafindo) melakukan penelusuran forensik digital terhadap audio dalam video tersebut menggunakan alat pendeteksi Hive Moderation.
Hasilnya mengejutkan (atau mungkin tidak): Probabilitas suara tersebut adalah Rekayasa AI mencapai 88,3%.
Artinya, “orasi” yang terdengar lantang dan puitis itu kemungkinan besar bukan diucapkan oleh mahasiswa yang sedang demo di jalanan, melainkan teks yang diketik oleh provokator lalu dibacakan oleh mesin Text-to-Speech dengan intonasi dramatis.
Ini adalah fenomena “Synthetic Propaganda”. Pembuat hoax tidak perlu lagi mencari orator ulung. Cukup ketik narasi yang membakar emosi agama, pilih suara “Male/Female Activist”, dan render.
Konteks Asli yang “Dibajak”
Lantas, dari mana visual videonya?
Penelusuran Google menunjukkan memang ada aksi mahasiswa terkait MBG, namun konteksnya berbeda.
Salah satunya adalah aksi Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Mataram. Mereka memang mendemo program MBG, tapi tuntutan utamanya disandingkan dengan desakan pengesahan RUU Perampasan Aset. Tidak ada orasi spesifik yang menuduh pemerintah “mengajarkan makan diam-diam saat puasa” dengan narasi sedramatis video viral tersebut.
Pembuat hoax “membajak” visual aksi mahasiswa yang asli, lalu menimpanya (dubbing) dengan audio AI yang narasinya sudah dipelintir jauh lebih radikal.
Kenapa Hoax Ini Berbahaya?
Hoax ini berbahaya karena menyerang sisi paling sensitif: Aqidah.
Narasi “Anak-anak batal puasa karena kebijakan negara” dan “Bapak-bapak mau nanggung dosanya” adalah teknik manipulasi emosi tingkat tinggi.
Tujuannya bukan untuk mengkritik kebijakan logistik MBG (misal: soal jam pembagian), tapi untuk membangun persepsi bahwa Negara adalah musuh Agama.
Verdict: Saring Sebelum Sharing
Kritik terhadap program MBG sangat diperbolehkan, bahkan harus. Masalah teknis pembagian makan saat Ramadan memang isu riil yang perlu solusi (apakah dibawa pulang untuk buka puasa, atau dialihkan).
Namun, jangan sampai kritik kita ditunggangi oleh konten palsu buatan robot. Jika Anda melihat video dengan suara narator yang terlalu “bersih”, intonasinya datar atau terlalu dramatis tanpa noise lapangan, waspadalah.
Jangan biarkan robot AI mengadu domba akal sehat kita.


Discussion about this post