Jakarta, 3 Februari 2026, Ada masa di mana lantai bursa Jakarta hanyalah “taman bermain” bagi modal asing. Sebuah adagium lama yang begitu melekat di kepala para pialang saham veteran berbunyi: “Jika Wall Street bersin, IHSG langsung demam tinggi.” Selama puluhan tahun, nasib Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) seolah didikte oleh aliran dana asing (foreign flow). Ketika mereka masuk, pasar pesta pora; ketika mereka keluar, pasar berdarah-darah.
Namun, memasuki Februari 2026, narasi usang itu perlahan runtuh.
Pasar modal Indonesia tengah mengalami metamorfosis struktural yang radikal. Di balik gejolak politik dan pergantian otoritas yang mewarnai awal tahun ini, ada satu benteng pertahanan yang diam-diam semakin kokoh: dominasi investor domestik. Kita tidak lagi sekadar menjadi penonton di rumah sendiri. Kita telah menjadi pemain inti.
Dari Periferi Menuju Sentral Ekonomi
Untuk memahami di mana kita berdiri sekarang, kita harus menengok ke belakang. Saat IHSG pertama kali diperkenalkan dengan nilai dasar 100 pada 10 Agustus 1982, bursa saham hanyalah instrumen pinggiran (periphery) dalam arsitektur ekonomi Orde Baru. Ia tak lebih dari pelengkap.
Perjalanan IHSG adalah rekaman denyut nadi bangsa. Ia merekam euforia deregulasi perbankan akhir 80-an, hancur lebur saat Krisis Moneter 1998, hingga bangkit kembali menunggangi gelombang commodity boom di pertengahan 2000-an. Namun, selama periode-periode tersebut, karakteristiknya tetap sama: rentan, volatile, dan sangat bergantung pada sentimen global.
Struktur indeks yang menggunakan pembobotan kapitalisasi pasar (market-cap weighted) menciptakan hegemoni sektoral yang unik. Sektor perbankan dan komoditas menjadi raja. Saham-saham seperti BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI bukan sekadar emiten; mereka adalah transmisi kebijakan moneter negara sekaligus “tabungan” paling aman bagi investor institusi. Di sisi lain, sektor energi membuat IHSG berdansa sesuai irama harga batu bara dan minyak sawit dunia.
Revolusi Sunyi: Kebangkitan Tuan Rumah
Titik balik sesungguhnya terjadi dalam satu dekade terakhir, dan mencapai puncaknya di akhir tahun 2025. Data berbicara jujur.
Jika dulu asing menguasai lebih dari separuh transaksi harian, kini peta kekuatan telah berbalik. Pada penutupan tahun 2025, partisipasi investor domestik mendominasi 70% dari nilai transaksi harian. Ini adalah angka yang revolusioner.
Siapa mereka? Mereka adalah kita. Generasi milenial yang melek finansial, Gen Z yang agresif belajar investasi, hingga ibu rumah tangga yang mulai mengalihkan dana belanja ke instrumen saham. Jumlah Single Investor Identification (SID) meledak hingga 19,7 juta, dengan 8,3 juta di antaranya adalah investor saham aktif.
Secara kepemilikan aset, investor lokal kini mengenggam 62,77% kue pasar modal Indonesia, menyisakan asing dengan porsi 37,23%. Pergeseran ini bukan sekadar statistik; ini adalah fondasi stabilitas.
Ujian Januari 2026: Sebuah Pembuktian
Validitas kekuatan domestik ini baru saja diuji dengan sangat brutal pada Januari 2026 lalu.
Bulan lalu, pasar modal kita diguncang oleh apa yang disebut analis sebagai “Krisis Otoritas”. Pengunduran diri massal pejabat tinggi BEI dan OJK, ditambah dengan skandal korporasi dan tekanan rebalancing indeks global pada saham-saham big caps tertentu, sempat membuat IHSG terhuyung. Penurunan harian sempat menyentuh level terburuk sejak 2008.
Dalam skenario lama (seperti 1998 atau 2008), guncangan sebesar ini akan memicu capital flight masif yang meruntuhkan ekonomi. Asing akan kabur serentak, meninggalkan puing-puing krisis.
Namun, di tahun 2026, IHSG memang terkoreksi, tapi ia tidak runtuh. Mengapa? Karena likuiditas domestik berfungsi sebagai shock absorber (peredam kejut). Ketika asing melakukan aksi jual (net sell) karena panik atau kewajiban algoritma, investor domestik—baik ritel maupun institusi lokal seperti dana pensiun dan asuransi—masuk menampung barang.
Ketahanan pasar saat ini lebih banyak ditopang oleh uang yang berputar di dalam negeri. Ini membuktikan bahwa pasar modal Indonesia telah bertransformasi dari sekadar “tempat parkir” dana panas global menjadi instrumen akumulasi kekayaan nasional.
Tantangan Baru: Hegemoni dan Kualitas
Meski kita patut berbangga, dominasi domestik bukan tanpa celah. Struktur pasar kita masih menunjukkan ketimpangan.
Sektor perbankan (Big Banks) masih menjadi “bunker” perlindungan utama. Pertumbuhan kredit yang terjaga di level 12,36% menjadikan sektor ini primadona abadi. Sementara itu, sektor pertambangan masih sangat liar, dan sektor konsumsi primer menjadi benteng defensif yang mengandalkan perut 280 juta rakyat Indonesia.
Tantangan ke depan bukan lagi soal menahan dana asing agar tidak kabur, melainkan bagaimana mendewasakan jutaan investor baru ini. Pasar yang didominasi ritel cenderung lebih emosional dan reaktif terhadap rumor.
Selain itu, dengan menguatnya narasi “Prabowonomics” dan hadirnya Danantara sebagai superholding raksasa, peta kekuatan di bursa akan kembali bergeser. Negara, melalui Danantara, berpotensi menjadi “Market Maker” terbesar yang baru, menyeimbangkan kekuatan oligarki swasta yang selama ini mendominasi bobot indeks.
Menuju Kedaulatan Finansial
Evolusi IHSG menuju dominasi domestik adalah langkah awal menuju kedaulatan finansial yang sesungguhnya. Kita tidak lagi mudah “masuk angin” hanya karena The Fed menaikkan suku bunga atau karena ada perang dagang di belahan bumi lain.
Namun, kedaulatan ini datang dengan tanggung jawab. Dengan porsi kepemilikan lokal yang mencapai 62,77%, kerugian pasar saham kini adalah kerugian rakyat Indonesia sendiri. Menjaga integritas pasar, transparansi otoritas, dan stabilitas emiten bukan lagi sekadar kewajiban regulator kepada investor asing, melainkan kewajiban moral kepada jutaan rakyat yang telah mempercayakan masa depannya pada layar bursa.
IHSG kini adalah milik kita. Baik buruknya, adalah cerminan wajah ekonomi kita sendiri.


Discussion about this post