• Tentang Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Disclaimer
  • Hubungi Kami
Saturday, February 7, 2026
  • Login
digitalbisnis.id
  • Bisnis
    • Digital Marketing
    • Start Up
  • Gadget & App
    • Gadget
      • App
      • Mobile
      • Komputer
    • Software
  • Teknologi
    • Artificial Intelligence
    • Big Data
    • Blockchain
    • Cloud
    • Transformasi Digital
    • Internet of Things
  • Start Up
  • Event
Cek Fakta
No Result
View All Result
  • Bisnis
    • Digital Marketing
    • Start Up
  • Gadget & App
    • Gadget
      • App
      • Mobile
      • Komputer
    • Software
  • Teknologi
    • Artificial Intelligence
    • Big Data
    • Blockchain
    • Cloud
    • Transformasi Digital
    • Internet of Things
  • Start Up
  • Event
Cek Fakta
No Result
View All Result
digitalbisnis.id
No Result
View All Result
Home Berita Terkini Teknologi Bisnis

Senja Teknokrat: Kala Birokrasi Luluh Lantak Demi ‘Vibe Check’ Rp 17 Ribu

digitalbisnis by digitalbisnis
February 5, 2026
in Bisnis
Senja Teknokrat: Kala Birokrasi Luluh Lantak Demi ‘Vibe Check’ Rp 17 Ribu
465
SHARES
1.5k
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Ketika Birokrasi Digerogoti oleh Budaya ‘Vibe Check’

Fenomena ‘vibe check’ yang meresap ke dalam proses birokrasi di Indonesia, bahkan sampai menyentuh angka fantastis Rp 17.000, menjadi cerminan suram dari dekadensi institusional. Alih-alih mengedepankan efisiensi, transparansi, dan profesionalisme, sektor publik justru terperosok dalam logika yang lebih mengedepankan kesan atau ‘vibe’ daripada substansi. Hal ini menimbulkan pertanyaan serius tentang arah tata kelola pemerintahan dan dampaknya terhadap kepercayaan publik.

Dekadensi Institusional: Akar Permasalahan yang Menggerogoti

Istilah ‘technocratic sunset’ atau senja teknokratik yang dilontarkan dalam konteks ini, merujuk pada situasi di mana prinsip-prinsip pengelolaan yang rasional dan berbasis data mulai terpinggirkan. Sejarah menunjukkan bahwa birokrasi yang kuat dan efektif adalah tulang punggung kemajuan sebuah negara. Namun, ketika lembaga-lembaga publik mulai kehilangan integritas dan fokusnya, terjadilah apa yang disebut dekadensi institusional. Ini bukan hanya soal kinerja yang menurun, tetapi juga tentang erosi nilai-nilai fundamental seperti akuntabilitas, meritokrasi, dan pelayanan publik yang berorientasi pada kebutuhan masyarakat.

Table of Contents

Toggle
  • Ketika Birokrasi Digerogoti oleh Budaya ‘Vibe Check’
  • Dekadensi Institusional: Akar Permasalahan yang Menggerogoti
  • Dampak Nyata: Kinerja Terhambat dan Kepercayaan Publik Menurun
  • Solusi: Membangun Kembali Fondasi Birokrasi yang Kuat
  • Menuju Birokrasi yang Berintegritas dan Efektif

Budaya ‘vibe check’ ini dapat diartikan sebagai kecenderungan untuk menilai sesuatu atau seseorang bukan berdasarkan kompetensi atau rekam jejak, melainkan berdasarkan kesan semata. Dalam konteks birokrasi, ini bisa berarti sebuah keputusan penting diambil bukan karena pertimbangan strategis atau analisis mendalam, melainkan karena ‘terasa benar’ atau sesuai dengan preferensi individu yang berkuasa. Ironisnya, fenomena ini bahkan bisa dikuantifikasi, seperti yang tersirat dari nilai Rp 17.000, menunjukkan bahwa ‘kesan’ ini pun bisa diperjualbelikan atau menjadi alat tawar-menawar informal.

Dampak Nyata: Kinerja Terhambat dan Kepercayaan Publik Menurun

Konsekuensi dari fenomena ini sangat nyata dan merugikan. Pertama, efisiensi birokrasi akan tergerus. Proses yang seharusnya cepat dan tepat sasaran menjadi lambat dan berbelit-belit karena dipengaruhi oleh faktor-faktor non-substansial. Investasi bisa terhambat, pelayanan publik menjadi tidak memuaskan, dan pada akhirnya, daya saing ekonomi negara akan ikut terpengaruh.

Kedua, integritas institusi menjadi taruhan. Ketika keputusan tidak lagi didasarkan pada aturan dan logika, celah untuk praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) semakin terbuka lebar. Angka Rp 17.000, sekecil apapun itu, bisa menjadi pintu gerbang bagi praktik-praktik yang lebih besar dan merusak. Kepercayaan publik terhadap pemerintah dan lembaga-lembaganya akan terkikis, yang pada gilirannya dapat memicu ketidakstabilan sosial dan politik.

Solusi: Membangun Kembali Fondasi Birokrasi yang Kuat

Untuk mengatasi ‘senja teknokratik’ ini dan membersihkan birokrasi dari budaya ‘vibe check’, diperlukan langkah-langkah strategis dan komprehensif. Reformasi birokrasi harus kembali berakar pada prinsip-prinsip profesionalisme dan pelayanan publik.

1. Penguatan Akuntabilitas dan Transparansi: Sistem pelaporan dan pengawasan harus diperkuat. Setiap keputusan, terutama yang berskala besar, harus dapat dipertanggungjawabkan secara publik. Penggunaan teknologi informasi untuk memantau kinerja dan alur kerja dapat meminimalkan ruang untuk praktik informal.

2. Penerapan Meritokrasi yang Ketat: Promosi dan penempatan jabatan harus didasarkan pada kompetensi, rekam jejak, dan kinerja, bukan pada kedekatan personal atau ‘kesan’. Sistem rekrutmen yang transparan dan objektif adalah kunci utama.

3. Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Manusia: Pelatihan yang berkelanjutan dan pengembangan profesional bagi aparatur sipil negara (ASN) sangat penting. Mereka perlu dibekali dengan keterampilan analitis, manajerial, dan etika kerja yang kuat, sehingga mampu membuat keputusan berdasarkan data dan fakta.

4. Budaya Kinerja Berbasis Hasil: Organisasi publik harus bergeser dari budaya kepatuhan menjadi budaya kinerja yang berorientasi pada hasil dan dampak. Evaluasi kinerja harus difokuskan pada pencapaian tujuan strategis dan kepuasan masyarakat.

5. Edukasi Publik dan Partisipasi Masyarakat: Masyarakat perlu diedukasi tentang hak dan kewajiban mereka dalam berinteraksi dengan birokrasi. Keterlibatan aktif masyarakat dalam pengawasan dan evaluasi kinerja pemerintah dapat menjadi penyeimbang yang efektif.

Menuju Birokrasi yang Berintegritas dan Efektif

Fenomena ‘vibe check’ Rp 17.000 mungkin terlihat kecil, namun ia adalah gejala dari penyakit yang lebih besar dalam sistem birokrasi kita. Mengabaikannya berarti membiarkan dekadensi institusional terus berlanjut, yang pada akhirnya akan merugikan seluruh elemen bangsa. Upaya membangun kembali birokrasi yang kuat, profesional, dan berintegritas bukanlah tugas yang ringan, namun merupakan keniscayaan demi masa depan Indonesia yang lebih baik.

Tags: Berita TerkiniBisnisCrypto
Previous Post

Mundi Ventures Suntik Dana Rp 11 Triliun untuk Startup Teknologi Mendalam dan Iklim

Next Post

Fairphone 6: Era Baru Smartphone Berkelanjutan yang Lebih Terjangkau dan Tahan Lama

digitalbisnis

digitalbisnis

Next Post
Fairphone 6: Era Baru Smartphone Berkelanjutan yang Lebih Terjangkau dan Tahan Lama

Fairphone 6: Era Baru Smartphone Berkelanjutan yang Lebih Terjangkau dan Tahan Lama

Discussion about this post

digitalbisnis.id

© 2023 digitalbisnis.id - Create with coffee.

  • Bisnis
  • Gadget & App
  • Teknologi
  • Start Up
  • Event

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Bisnis
    • Digital Marketing
    • Start Up
  • Gadget & App
    • Gadget
      • App
      • Mobile
      • Komputer
    • Software
  • Teknologi
    • Artificial Intelligence
    • Big Data
    • Blockchain
    • Cloud
    • Transformasi Digital
    • Internet of Things
  • Start Up
  • Event
Cek Fakta

© 2023 digitalbisnis.id - Create with coffee.