Jakarta, digitalbisnis.id – Samsung Electronics mengambil langkah monumental dalam persaingan teknologi kecerdasan buatan (AI). Raksasa teknologi asal Korea Selatan ini dilaporkan memiliki target ambisius untuk melipatgandakan pengiriman perangkat seluler yang ditenagai AI menjadi 800 juta unit pada tahun 2024. Angka ini menandakan sebuah manuver agresif untuk mendominasi pasar yang baru mulai terbentuk dan menjadi medan pertempuran utama para produsen gawai.
Informasi strategis ini pertama kali diungkap oleh Reuters, yang mengutip pernyataan dari seorang eksekutif senior Samsung yang tidak ingin disebutkan namanya. Target 800 juta unit tersebut bukan hanya tentang menjual ponsel baru, melainkan sebuah strategi dua cabang yang cerdas: mendorong adopsi seri terbaru seperti Galaxy S24 sekaligus memperluas jangkauan fitur AI ke jutaan pengguna perangkat lama.
Strategi Dua Arah: Perangkat Baru dan Pengguna Lama
Langkah pertama dari strategi ini berpusat pada lini produk andalan terbaru, yaitu seri Galaxy S24, yang sejak awal dirancang sebagai ‘AI Phone’. Namun, Samsung tidak berhenti di situ. Perusahaan menyadari betul kekuatan ekosistem dan basis pengguna loyal mereka yang sangat besar. Oleh karena itu, bagian kedua dari rencana ini adalah menyuntikkan kemampuan ‘Galaxy AI’ ke perangkat premium yang dirilis sebelumnya.
Samsung telah mengonfirmasi bahwa pembaruan perangkat lunak akan membawa fitur-fitur Galaxy AI ke sekitar 100 juta pengguna model-model lawas pada akhir tahun ini. Perangkat yang akan mendapatkan ‘peningkatan otak’ ini antara lain seri Galaxy S23, S23 FE, Z Fold5, Z Flip5, dan jajaran tablet Tab S9. Ini adalah langkah krusial untuk mencegah pengguna lama merasa tertinggal dan untuk membangun ekosistem AI yang solid dan inklusif.
“Kami akan memperluas pengalaman Galaxy AI ke lebih dari 100 juta pengguna Galaxy pada tahun 2024,” demikian pernyataan resmi perusahaan, menggarisbawahi komitmen mereka untuk tidak hanya fokus pada perangkat keras baru.
Apa Itu Galaxy AI dan Mengapa Penting?
Galaxy AI adalah payung dari serangkaian fitur cerdas yang dirancang untuk meningkatkan produktivitas dan kreativitas pengguna. Beberapa fitur unggulan yang menjadi sorotan utama adalah ‘Live Translate’, yang memungkinkan terjemahan panggilan suara dua arah secara real-time, dan ‘Circle to Search’, sebuah kolaborasi dengan Google yang memungkinkan pengguna mencari informasi apapun di layar hanya dengan melingkarinya.
Kehadiran fitur-fitur ini mengubah cara interaksi pengguna dengan perangkat mereka. Smartphone tidak lagi hanya menjadi alat komunikasi atau konsumsi media, tetapi berevolusi menjadi asisten pribadi yang proaktif. Kemampuan inilah yang diyakini Samsung akan menjadi pembeda utama di pasar dan alasan konsumen untuk memilih atau tetap setia pada ekosistem Galaxy.
Medan Perang AI: Menghadapi Apple dan Rival dari Tiongkok
Langkah agresif Samsung ini tidak terjadi di ruang hampa. Seluruh industri teknologi sedang berlomba untuk mengintegrasikan AI generatif ke dalam produk mereka. Pesaing utama, Apple, diperkirakan akan mengumumkan serangkaian fitur AI miliknya sendiri dalam gelaran Worldwide Developers Conference (WWDC) mendatang, yang kemungkinan besar akan menjadi bagian inti dari iOS 18 dan seri iPhone 16.
Selain itu, para pemain kuat dari Tiongkok seperti Xiaomi, Honor, dan Oppo juga tidak tinggal diam. Mereka telah meluncurkan perangkat dengan klaim kemampuan AI yang kuat, menciptakan persaingan yang semakin ketat di semua segmen harga.
Menurut firma riset pasar Counterpoint, tahun 2024 akan menjadi tahun penting bagi smartphone AI. Mereka memprediksi bahwa pengiriman ponsel berkemampuan AI akan mencapai 11% dari total pasar smartphone global. Dengan target 800 juta unit, Samsung jelas tidak hanya ingin menjadi bagian dari tren ini, tetapi berambisi untuk memimpinnya.
Kesimpulan: Pertaruhan Besar di Era Baru Komputasi
Target Samsung untuk mendistribusikan 800 juta perangkat seluler berkemampuan AI adalah sebuah pertaruhan besar yang menunjukkan visi jangka panjang perusahaan. Ini adalah sinyal kuat bahwa pertarungan di industri smartphone tidak lagi hanya soal megapiksel kamera atau kecepatan prosesor, melainkan tentang kecerdasan perangkat lunak dan pengalaman pengguna yang intuitif.
Dengan menggabungkan penjualan perangkat baru dan pembaruan untuk pengguna lama, Samsung sedang membangun fondasi ekosistem AI yang masif. Keberhasilan strategi ini akan menjadi penentu posisi Samsung sebagai pemimpin inovasi di era komputasi personal berikutnya, sebuah era di mana kecerdasan buatan tertanam di setiap perangkat yang kita genggam.


Discussion about this post