Di tengah hiruk pikuk perkembangan zaman yang serba digital, peran fundamental interaksi keluarga dalam membentuk kecerdasan anak kembali ditekankan. Wakil Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Wamendikbudristek), Profesor Nahar, pada Rabu (29/5/2024), menegaskan bahwa kualitas hubungan dan komunikasi di dalam lingkungan keluarga merupakan salah satu faktor krusial yang sangat memengaruhi perkembangan kognitif anak.
Fondasi Penting Pembentukan Kecerdasan
Profesor Nahar menyampaikan pandangannya bahwa keluarga bukan sekadar tempat tinggal, melainkan ekosistem pertama dan utama bagi tumbuh kembang seorang anak. Interaksi yang hangat, penuh perhatian, dan stimulatif antaranggota keluarga, terutama antara orang tua dan anak, akan membuka gerbang bagi potensi kecerdasan anak untuk berkembang secara optimal. Ini bukan sekadar tentang memberikan materi pelajaran formal, melainkan bagaimana menciptakan lingkungan yang kaya akan dialog, diskusi, dan kegiatan bersama yang merangsang rasa ingin tahu dan kemampuan berpikir kritis anak.
“Interaksi yang baik dalam keluarga itu sangat penting. Mulai dari bagaimana kita berkomunikasi dengan anak, bagaimana kita mengajak mereka berdiskusi tentang berbagai hal, hingga kegiatan sederhana seperti membaca buku bersama atau bermain. Semua itu berkontribusi besar pada pembentukan kecerdasan anak,” ujar Profesor Nahar dalam sebuah kesempatan.
Beliau menambahkan bahwa di era informasi yang begitu deras, peran keluarga menjadi semakin vital. Orang tua memiliki tanggung jawab untuk membimbing anak dalam memilah informasi, mengembangkan literasi digital yang sehat, serta menanamkan nilai-nilai moral dan etika. Kemampuan anak untuk belajar, memecahkan masalah, dan beradaptasi dengan lingkungan baru sangat dipengaruhi oleh fondasi yang dibangun di rumah.
Dampak Jangka Panjang Interaksi Positif
Lebih jauh, Profesor Nahar menggarisbawahi bahwa dampak positif dari interaksi keluarga yang berkualitas tidak hanya terasa dalam jangka pendek, namun juga akan membekas sepanjang kehidupan anak. Anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan keluarga yang suportif cenderung memiliki rasa percaya diri yang lebih tinggi, kemampuan sosial yang lebih baik, dan ketahanan mental yang lebih kuat. Mereka lebih mampu menghadapi tantangan, membangun hubungan yang sehat, dan meraih kesuksesan di masa depan.
“Kita perlu menyadari bahwa apa yang kita tanamkan di rumah hari ini akan memengaruhi generasi penerus bangsa. Oleh karena itu, mari kita bersama-sama menciptakan lingkungan keluarga yang kondusif bagi tumbuh kembang kecerdasan anak. Ini adalah investasi jangka panjang yang tak ternilai harganya,” pungkasnya.
Pernyataan ini menjadi pengingat penting bagi kita semua, para orang tua, pendidik, dan pemangku kepentingan lainnya, untuk terus memperkuat peran keluarga sebagai benteng utama dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Di tengah berbagai kemajuan teknologi, sentuhan kasih dan interaksi bermakna dalam keluarga tetap menjadi elemen tak tergantikan.
Dilansir dari berbagai sumber terpercaya.


Discussion about this post