Ancaman Krisis Pangan di Depan Mata
Di tengah ketidakpastian geopolitik global, perubahan iklim yang ekstrem, dan rantai pasok yang rapuh, ketahanan pangan telah berevolusi dari sekadar isu agrikultur menjadi pilar utama stabilitas ekonomi dan keamanan nasional. Kawasan Asia Tenggara (ASEAN), dengan populasi lebih dari 680 juta jiwa, berada di garis depan dalam menghadapi tantangan ini. Mekanisme yang ada saat ini dirasa tidak lagi memadai untuk menahan guncangan di masa depan, memicu seruan untuk sebuah kerangka kerja yang lebih kuat dan inklusif: ASEAN+5.
Selama ini, ASEAN telah memiliki beberapa inisiatif untuk menjaga stabilitas pangan, seperti ASEAN Food Security Reserve Board (AFSRB) yang didirikan untuk mengelola cadangan beras darurat. Namun, skala dan kompleksitas tantangan modern—mulai dari dampak perang di Eropa terhadap harga gandum dan pupuk hingga fenomena El Niño yang menyebabkan kekeringan parah—menunjukkan bahwa solusi yang berfokus secara internal tidak lagi cukup. Ketergantungan negara-negara anggota pada impor untuk komoditas tertentu dan kurangnya integrasi teknologi canggih menjadi titik lemah yang harus segera diatasi.
Mengapa Aliansi ASEAN+5 Menjadi Kunci?
Gagasan untuk memperluas kerangka kerja ketahanan pangan menjadi ASEAN+5 bukanlah tanpa alasan. Konsep ini mengusulkan pelibatan lima mitra dialog strategis yang memiliki kekuatan unik: China, Jepang, Korea Selatan, Australia, dan Selandia Baru. Keterlibatan kelima negara ini diyakini dapat menciptakan sebuah ekosistem ketahanan pangan yang jauh lebih solid dan responsif.
Setiap negara membawa kontribusi vital. Australia dan Selandia Baru adalah ‘lumbung pangan’ raksasa di kawasan Asia-Pasifik, produsen besar biji-bijian, daging, dan produk susu. Keterlibatan mereka dapat menjamin diversifikasi pasokan dan stabilitas impor bagi negara-negara ASEAN. Di sisi lain, Jepang dan Korea Selatan merupakan pemimpin global dalam inovasi dan teknologi pertanian (agritech). Keahlian mereka dalam smart farming, otomatisasi, dan logistik rantai dingin dapat ditransfer untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi sektor pertanian di seluruh ASEAN.
Sementara itu, China adalah pemain dengan dua peran krusial: sebagai salah satu produsen pangan terbesar di dunia sekaligus pasar konsumen raksasa. Keterlibatannya dalam kerangka kerja ini akan sangat penting untuk menstabilkan harga regional dan menyediakan investasi masif yang dibutuhkan untuk modernisasi infrastruktur pertanian.
Dr. Arief Anshory Yusuf, seorang ekonom dari Center for Sustainable Development Goals Studies (SDGs Center) Universitas Padjadjaran, dalam sebuah kesempatan pernah menyoroti pentingnya kolaborasi yang lebih luas. Ia menyatakan, “Kerangka kerja ketahanan pangan ASEAN yang ada saat ini dirancang untuk era yang berbeda. Di tengah disrupsi rantai pasok global dan ancaman krisis iklim, kolaborasi yang lebih luas bukan lagi pilihan, melainkan keharusan strategis. Melibatkan kekuatan ekonomi seperti China, Jepang, Korea Selatan, Australia, dan Selandia Baru akan menciptakan ‘jaring pengaman’ yang jauh lebih kuat dan responsif.”
Wujud Nyata Kolaborasi Masa Depan
Sebuah kerangka kerja ASEAN+5 tidak hanya akan sebatas pada perjanjian perdagangan. Kolaborasi ini dapat diwujudkan dalam beberapa bentuk konkret yang saling menguntungkan:
- Cadangan Pangan Bersama yang Diperluas: Membangun sistem cadangan pangan darurat yang lebih besar dan mencakup komoditas selain beras, seperti gandum dan jagung, yang didukung oleh kontribusi dari kelima negara mitra.
- Pusat Riset dan Inovasi Agritech Bersama: Mendirikan pusat penelitian yang berfokus pada pengembangan teknologi pertanian yang tahan iklim dan sesuai dengan kondisi geografis ASEAN, didanai dan didukung oleh keahlian teknologi dari Jepang dan Korea Selatan.
- Sistem Informasi Pasar Terintegrasi: Menciptakan platform berbagi data real-time mengenai produksi, stok, harga, dan prediksi cuaca di seluruh negara anggota ASEAN+5 untuk memungkinkan pengambilan keputusan yang lebih cepat dan tepat saat terjadi potensi krisis.
- Investasi Infrastruktur Logistik: Proyek bersama untuk membangun dan memodernisasi pelabuhan, gudang penyimpanan (silo), dan jaringan transportasi untuk mengurangi kehilangan pasca-panen (food loss) dan memastikan distribusi yang efisien.
Tantangan dan Jalan ke Depan
Tentu, jalan menuju realisasi aliansi ASEAN+5 tidaklah mulus. Perbedaan kepentingan politik, kebijakan proteksionisme domestik, serta standarisasi keamanan pangan yang beragam menjadi tantangan utama yang harus dinegosiasikan. Kepercayaan antar negara, terutama di tengah dinamika geopolitik yang kompleks, akan menjadi fondasi utama keberhasilan inisiatif ini.
Namun, urgensinya tidak bisa ditawar lagi. Stabilitas kawasan Asia Tenggara sangat bergantung pada kemampuannya untuk memberi makan populasinya. Dengan melangkah keluar dari zona nyaman dan merangkul kolaborasi yang lebih luas, ASEAN dapat mengubah ancaman krisis pangan menjadi peluang untuk membangun fondasi ekonomi regional yang lebih tangguh dan berkelanjutan.

Discussion about this post