Narasi
Beredar sebuah informasi di media sosial yang mengklaim bahwa masyarakat Solo menggelar aksi demonstrasi besar-besaran untuk menolak Presiden Joko Widodo (Jokowi) diangkat menjadi raja. Narasi ini seringkali disertai dengan gambar atau video yang seolah mendukung klaim tersebut, menciptakan persepsi adanya gejolak politik signifikan di kota tersebut terkait figur presiden.
Penelusuran Fakta
Tim investigasi digitalbisnis.id, dalam rangka memverifikasi kebenaran informasi yang beredar di ranah digital, telah melakukan penelusuran mendalam terhadap klaim mengenai demo penolakan Jokowi sebagai raja di Solo. Berdasarkan analisis konten yang beredar, temuan kami menunjukkan adanya manipulasi dan ketidaksesuaian fakta.
Investigasi dimulai dengan melacak sumber asli dari gambar atau video yang menyertai narasi hoax tersebut. Ternyata, sebagian besar materi visual yang digunakan adalah rekaman dari aksi demonstrasi yang sudah terjadi sebelumnya, atau bahkan dari peristiwa yang sama sekali tidak berkaitan dengan penolakan terhadap Presiden Jokowi. Tujuannya adalah untuk menciptakan kesan bahwa peristiwa tersebut benar-benar terjadi dan memiliki skala yang signifikan.
Lebih lanjut, kami melakukan pencarian berita dan informasi resmi dari berbagai media terpercaya serta pernyataan dari pihak berwenang di Solo. Tidak ditemukan adanya laporan kredibel mengenai aksi demonstrasi publik di Solo dengan tuntutan menolak Jokowi sebagai raja. Pernyataan dari kepolisian setempat, tokoh masyarakat, maupun organisasi kemasyarakatan yang aktif di Solo juga menegaskan bahwa peristiwa semacam itu tidak pernah terjadi.
Logika sebab-akibat dalam penelusuran ini sangat jelas. Sebab: Adanya narasi palsu yang menyebar di media sosial dan memanfaatkan momen-momen tertentu untuk menciptakan kegaduhan politik. Akibat: Masyarakat yang terpapar informasi ini menjadi keliru dalam memahami kondisi sebenarnya di lapangan, serta berpotensi menimbulkan keresahan dan polarisasi yang tidak perlu.
Klaim bahwa Presiden Jokowi diangkat menjadi raja adalah klaim yang secara fundamental tidak berdasar dalam sistem ketatanegaraan Indonesia yang demokratis. Posisi presiden adalah hasil pemilihan umum, bukan penobatan sebagai raja. Oleh karena itu, narasi semacam ini patut dicurigai sebagai upaya disinformasi yang bertujuan untuk mendiskreditkan institusi kepresidenan atau menciptakan kebencian.
Kesimpulan
Setelah melakukan serangkaian verifikasi dan penelusuran mendalam terhadap berbagai sumber, dapat dipastikan bahwa klaim mengenai masyarakat Solo yang berdemo menolak Presiden Jokowi sebagai raja adalah tidak benar dan merupakan informasi palsu. Aksi yang diklaim tersebut tidak pernah terjadi, dan materi visual yang menyertainya kemungkinan besar telah dimanipulasi atau diambil dari konteks yang berbeda. Upaya penyebaran informasi semacam ini harus diwaspadai karena berpotensi menimbulkan kesalahpahaman dan keresahan di publik.
Dilansir dari hasil pemeriksaan fakta TurnBackHoax.ID, informasi tersebut dinyatakan Salah.


Discussion about this post