Peringatan Keras dari Jakarta di Tengah Eskalasi Global
Di tengah panggung geopolitik dunia yang kian memanas, Indonesia mengambil sikap tegas dan menyuarakan keprihatinan mendalam terkait potensi intervensi militer Amerika Serikat di Venezuela. Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Luar Negeri, secara terbuka memperingatkan bahwa langkah semacam itu berisiko menciptakan preseden atau contoh buruk yang sangat berbahaya bagi tatanan global dan stabilitas hubungan antarnegara.
Peringatan ini mengemuka seiring dengan meningkatnya tekanan Washington terhadap pemerintahan di Caracas. Sikap Indonesia ini bukan tanpa alasan. Sebagai negara yang memegang teguh prinsip non-intervensi dan kedaulatan negara lain, Indonesia melihat potensi penggunaan kekuatan militer sepihak sebagai ancaman langsung terhadap prinsip-prinsip fundamental yang tertuang dalam Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
“Kami meyakini bahwa penggunaan kekuatan militer secara sepihak, tanpa mandat yang jelas dari Dewan Keamanan PBB, tidak hanya akan memperburuk krisis kemanusiaan di Venezuela, tetapi juga akan menciptakan preseden berbahaya bagi hubungan antarnegara,” demikian pernyataan kunci yang menggarisbawahi posisi Indonesia dalam isu ini. Pendekatan ini mencerminkan kebijakan luar negeri ‘bebas-aktif’ yang telah lama menjadi kompas diplomasi kita.
Mengapa Ini Menjadi Masalah Serius Bagi Kita?
Mungkin kita bertanya, apa urusannya krisis di Venezuela dengan Indonesia? Jawabannya terletak pada ‘efek domino’. Jika sebuah negara adidaya bisa dengan mudah melakukan intervensi militer ke negara lain dengan dalih apapun, maka prinsip kedaulatan negara menjadi tidak berarti. Hari ini Venezuela, besok bisa jadi negara lain. Tatanan dunia yang didasarkan pada hukum internasional bisa runtuh, digantikan oleh hukum rimba di mana yang kuat berhak melakukan apa saja.
Bagi komunitas bisnis dan ekonomi, preseden semacam ini adalah resep jitu untuk ketidakpastian. Konflik bersenjata, bahkan yang terlokalisir sekalipun, memiliki kemampuan untuk mengguncang pasar global. Venezuela adalah negara dengan cadangan minyak terbesar di dunia. Eskalasi militer di sana dapat secara instan melejitkan harga minyak mentah dunia, yang pada akhirnya akan berdampak pada biaya energi dan inflasi di berbagai negara, termasuk Indonesia.
Stabilitas global adalah fondasi utama bagi perdagangan internasional dan investasi. Ketika fondasi itu retak oleh aksi militer unilateral, sentimen investor akan goyah. Arus modal bisa tiba-tiba berbalik arah dari negara-negara berkembang yang dianggap berisiko, menciptakan volatilitas di pasar saham dan mata uang. Inilah mengapa peringatan diplomatik dari Jakarta memiliki bobot ekonomi yang signifikan.
Jalan Damai Sebagai Satu-Satunya Opsi
Alih-alih unjuk kekuatan militer, Indonesia secara konsisten mendorong penyelesaian krisis Venezuela melalui jalur dialog dan diplomasi. Menurut Jakarta, solusi yang langgeng hanya bisa dicapai melalui proses politik yang inklusif dan dipimpin oleh rakyat Venezuela sendiri, tanpa campur tangan kekuatan asing.
Pesan yang ingin disampaikan jelas: kekerasan hanya akan melahirkan kekerasan baru dan penderitaan bagi rakyat sipil. Solusi damai, meskipun seringkali lebih lambat dan rumit, adalah satu-satunya jalan untuk memastikan stabilitas jangka panjang, baik bagi Venezuela maupun bagi kawasan Amerika Latin secara keseluruhan.
Sikap tegas Indonesia ini menjadi pengingat penting bagi semua pihak bahwa di era modern yang saling terhubung ini, setiap tindakan di satu sudut dunia dapat menimbulkan riak yang terasa hingga ke sudut dunia lainnya. Menjaga tatanan internasional yang berbasis aturan bukan hanya tugas diplomat, tetapi juga kepentingan kita bersama demi menjaga iklim bisnis dan ekonomi yang kondusif.
Credit: Diolah dari laporan ANTARA News


Discussion about this post