Energi Tak Terbatas di Usia Senja
Di saat banyak orang seusianya menikmati masa pensiun dengan bersantai, Bill Harris justru memulai babak baru yang penuh tantangan. Pada usia 69 tahun, veteran Silicon Valley yang pernah memimpin raksasa seperti PayPal dan Intuit ini kembali ke arena pertarungan startup dengan mendirikan Nirvana Money, sebuah neobank yang ambisius. Kisahnya bukan tentang keharusan finansial, melainkan tentang gairah yang tak pernah padam untuk membangun dan berinovasi.
Bagi Harris, usia hanyalah angka. Rutinitas hariannya lebih mirip dengan seorang founder muda yang sedang mengejar pertumbuhan ketimbang seorang pensiunan. Ia adalah bukti nyata bahwa semangat, disiplin, dan kecintaan pada pekerjaan dapat mengalahkan batasan waktu. Lantas, bagaimana seorang legenda teknologi di usianya yang hampir menyentuh kepala tujuh ini menjalani harinya?
Pagi Hari: Ritual Tanpa Alarm dan Olahraga Terjadwal
Hari Bill Harris dimulai pukul 6 pagi, tanpa bantuan alarm. Tubuhnya secara alami telah terbiasa dengan ritme ini. Hal pertama yang ia lakukan bahkan sebelum beranjak dari tempat tidur adalah meraih ponselnya. Bukan untuk berselancar di media sosial, melainkan untuk langsung terjun ke dalam pekerjaannya. Email dan pesan Slack menjadi ‘sarapan’ pertamanya, memastikan ia tidak ketinggalan informasi penting dari timnya yang tersebar di berbagai zona waktu.
Setelah sesi kerja singkat di tempat tidur, ia beranjak untuk sarapan sehat yang terdiri dari yogurt Yunani, buah beri, dan granola. Namun, ritual paginya yang paling krusial adalah sesi olahraga pada pukul 9 pagi. Ia tidak melakukannya sendiri, melainkan bersama seorang pelatih pribadi yang membantunya fokus pada latihan kekuatan, kardio, dan keseimbangan. Baginya, kebugaran fisik adalah fondasi utama untuk menjaga ketajaman mental dan stamina yang dibutuhkan untuk memimpin sebuah startup.
Filosofi Kerja: Menolak Konsep ‘Work-Life Balance’
Salah satu pandangan paling menarik dari Bill Harris adalah penolakannya terhadap konsep ‘work-life balance’ yang populer. Ia menganggap gagasan tersebut sudah usang dan tidak relevan dengan realitasnya. Baginya, yang ada adalah ‘work-life integration’ atau integrasi antara pekerjaan dan kehidupan.
“Saya pikir seluruh gagasan tentang ‘work-life balance’ itu bangkrut,” ujar Harris dalam sebuah wawancara. Ia menjelaskan bahwa memisahkan pekerjaan dan kehidupan secara kaku justru menciptakan konflik. Sebaliknya, ia memandang pekerjaannya sebagai bagian integral dari identitas dan kebahagiaannya.
Pekerjaan baginya bukanlah beban, melainkan sebuah keahlian atau kerajinan tangan yang ia nikmati. “Saya bekerja sepanjang waktu, dan saya senang bekerja sepanjang waktu karena apa yang saya lakukan bukanlah pekerjaan; itu adalah sebuah keahlian (craft),” tegasnya. Filosofi inilah yang membuatnya tetap termotivasi dan bersemangat setiap hari, melihat setiap tantangan sebagai kesempatan untuk mengasah keahliannya.
Siang hingga Malam: Maraton Rapat dan Misi Membangun Sesuatu
Selepas sesi olahraga, jadwal Harris dipenuhi dengan rapat maraton, baik melalui Zoom maupun tatap muka. Agendanya padat, mencakup segala aspek krusial dalam membangun perusahaan: mulai dari pengembangan produk, strategi pemasaran, keuangan, hingga penggalangan dana. Energinya seolah tak ada habisnya, terus mendorong timnya untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Makan siangnya pun tak jauh dari prinsip sehat, seringkali hanya berupa salad untuk menjaga energinya tetap stabil. Dorongan utamanya bukanlah uang, melainkan hasrat mendasar untuk berkarya. “Saya harus bangun di pagi hari dan membangun sesuatu. Saya harus menciptakan sesuatu yang bernilai,” ungkapnya. Hasrat inilah yang menjadi bahan bakar utamanya.
Ketika sore menjelang malam, intensitas kerja mulai menurun. Ia biasanya makan malam bersama istrinya, terkadang menghadiri acara sosial atau sekadar bersantai menonton serial TV seperti “Succession”. Pukul 10:30 malam adalah waktunya untuk beristirahat, mengisi ulang energi untuk kembali ‘bertarung’ keesokan harinya.
Kisah Bill Harris memberikan inspirasi bahwa dedikasi pada sebuah ‘craft’ atau keahlian dapat memberikan makna dan energi yang melampaui usia. Ia menemukan kebahagiaan dalam proses membangun, dikelilingi oleh orang-orang yang ia hargai. Seperti yang ia simpulkan, “Saya bekerja dengan orang-orang yang saya cintai pada produk yang saya cintai untuk pelanggan yang saya cintai.”


Discussion about this post