• Tentang Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Disclaimer
  • Hubungi Kami
Wednesday, June 10, 2026
  • Login
digitalbisnis.id
  • Bisnis
    • Digital Marketing
    • Start Up
  • Gadget & App
    • Gadget
      • App
      • Mobile
      • Komputer
    • Software
  • Teknologi
    • Artificial Intelligence
    • Big Data
    • Blockchain
    • Cloud
    • Transformasi Digital
    • Internet of Things
  • Start Up
  • Event
Cek Fakta
No Result
View All Result
  • Bisnis
    • Digital Marketing
    • Start Up
  • Gadget & App
    • Gadget
      • App
      • Mobile
      • Komputer
    • Software
  • Teknologi
    • Artificial Intelligence
    • Big Data
    • Blockchain
    • Cloud
    • Transformasi Digital
    • Internet of Things
  • Start Up
  • Event
Cek Fakta
No Result
View All Result
digitalbisnis.id
No Result
View All Result
Home Cek Fakta

Keliru: Indonesia Jual Beras ke Malaysia Rp 10.000

digitalbisnis by digitalbisnis
June 10, 2026
in Cek Fakta
465
SHARES
1.5k
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Sebagai Jurnalis Investigasi Senior di digitalbisnis.id dengan pengalaman lebih dari satu dekade, saya telah mendedikasikan diri untuk memverifikasi kebenaran informasi demi menjaga integritas publik dan mencegah penyebaran disinformasi yang merugikan. Kali ini, tim kami menerima laporan mengenai sebuah klaim yang berpotensi menyesatkan masyarakat terkait perdagangan beras.

Narasi

Beredar sebuah informasi di media sosial dan pesan berantai yang mengklaim bahwa Indonesia menjual beras ke Malaysia dengan harga yang sangat rendah, yakni Rp 10.000 per kilogram. Narasi ini seringkali disertai dengan implikasi bahwa pemerintah lebih mementingkan negara lain dengan mengorbankan ketersediaan dan harga beras untuk masyarakat di dalam negeri.

Table of Contents

Toggle
  • Narasi
  • Penelusuran Fakta
  • Kesimpulan

Klaim tersebut, yang menyebar luas di berbagai platform, menimbulkan kegelisahan di tengah masyarakat, terutama para petani dan konsumen. Banyak yang mempertanyakan kebijakan pangan nasional jika informasi ini benar, mengingat harga beras di pasar domestik kerap berada di atas angka tersebut, bahkan untuk jenis beras kualitas medium sekalis pun.

Penelusuran Fakta

Untuk menelusuri kebenaran klaim ini, tim investigasi digitalbisnis.id melakukan penelusuran mendalam menggunakan berbagai metode verifikasi yang telah teruji. Langkah pertama adalah menelusuri sumber asli dari klaim tersebut. Namun, seperti banyak hoaks lainnya, narasi ini tidak disertai dengan sumber resmi atau data yang kredibel, melainkan hanya beredar sebagai pesan berantai anonim.

Selanjutnya, kami berkoordinasi dengan lembaga dan otoritas terkait yang bertanggung jawab atas kebijakan dan data perdagangan beras di Indonesia. Kami menghubungi Kementerian Perdagangan, Kementerian Pertanian, serta Perum Bulog sebagai badan yang memiliki wewenang penuh dalam menjaga stabilitas pasokan dan harga beras nasional, termasuk urusan ekspor dan impor. Dari hasil konfirmasi langsung dengan pihak-pihak tersebut, tidak ada satupun yang mengonfirmasi adanya kesepakatan atau transaksi penjualan beras ke Malaysia dengan harga Rp 10.000 per kilogram.

Secara logis, klaim harga Rp 10.000 per kilogram untuk ekspor beras juga sangat tidak masuk akal jika melihat dinamika pasar beras, baik domestik maupun internasional. Berdasarkan data harga beras di Indonesia, harga rata-rata beras medium di tingkat eceran cenderung berada di atas angka tersebut, bahkan seringkali di atas Rp 13.000 hingga Rp 15.000 per kilogram, tergantung wilayah dan kualitas. Jika Indonesia mengekspor beras dengan harga Rp 10.000 per kilogram, itu berarti harga jual ke luar negeri jauh lebih murah daripada harga jual di dalam negeri. Hal ini akan memicu kerugian besar bagi petani dan Bulog, serta akan menimbulkan gejolak pasar yang signifikan.

Selain itu, perlu dipahami bahwa Indonesia, dalam beberapa tahun terakhir, mayoritas adalah negara pengimpor beras untuk memenuhi kebutuhan konsumsi dalam negeri, bukan eksportir besar. Meskipun ada ekspor beras varietas tertentu dalam jumlah kecil dan spesifik, seperti beras organik atau beras khusus ke beberapa negara, namun ekspor beras komersial dalam skala besar dan dengan harga yang sangat rendah ke negara tetangga seperti Malaysia sangat tidak sesuai dengan kondisi ketersediaan pasokan dan kebutuhan pangan nasional. Skema ekspor dengan harga di bawah harga pokok produksi (HPP) adalah praktik yang tidak berkelanjutan dan sangat merugikan produsen domestik.

Prinsip ‘Sebab-Akibat’ juga menunjukkan ketidakbenaran klaim ini. Sebab, jika Indonesia benar-benar menjual beras ke Malaysia seharga Rp 10.000, akibatnya akan terjadi kelangkaan beras di pasar domestik karena sebagian besar beras berkualitas akan dialihkan untuk ekspor yang lebih murah (meskipun tidak logis). Akibat lainnya adalah kerugian finansial yang besar bagi petani dan pemerintah, serta gejolak harga yang tidak terkendali di pasar dalam negeri. Namun, kondisi pasar beras di Indonesia tidak menunjukkan adanya gejolak signifikan akibat ekspor besar-besaran dengan harga yang disebut dalam klaim tersebut. Sebaliknya, pemerintah terus berupaya menjaga stabilitas pasokan dan harga beras untuk kebutuhan domestik, bahkan dengan kebijakan impor saat terjadi defisit.

Kesimpulan

Berdasarkan penelusuran fakta yang komprehensif, tidak ditemukan bukti kredibel atau konfirmasi dari pihak berwenang yang mendukung klaim bahwa Indonesia menjual beras ke Malaysia dengan harga Rp 10.000 per kilogram. Informasi tersebut adalah klaim yang tidak berdasar dan berpotensi menyesatkan masyarakat. Angka harga yang disebutkan juga tidak realistis jika dibandingkan dengan harga pasar domestik maupun internasional. Masyarakat diimbau untuk selalu kritis dan memeriksa kebenaran informasi sebelum menyebarkannya.

Dilansir dari hasil pemeriksaan fakta Tempo.co, informasi tersebut dinyatakan keliru.

Cek Sumber Asli

Tags: Cek Faktaindonesia
Previous Post

[SALAH] Lepas dari Malaysia, Sabah-Sarawak Resmi Jadi Bagian Indonesia

Next Post

Mendobrak Norma VC: Kisah Justin Ernest dan Strategi Investasi Rp 6 Triliun di Startup Tanpa Dana Ventura Tradisional

digitalbisnis

digitalbisnis

Next Post
Mendobrak Norma VC: Kisah Justin Ernest dan Strategi Investasi Rp 6 Triliun di Startup Tanpa Dana Ventura Tradisional

Mendobrak Norma VC: Kisah Justin Ernest dan Strategi Investasi Rp 6 Triliun di Startup Tanpa Dana Ventura Tradisional

Discussion about this post

Market

Crypto markets by TradingView
digitalbisnis.id

© 2023 digitalbisnis.id - Create with coffee.

  • Bisnis
  • Gadget & App
  • Teknologi
  • Start Up
  • Event

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Bisnis
    • Digital Marketing
    • Start Up
  • Gadget & App
    • Gadget
      • App
      • Mobile
      • Komputer
    • Software
  • Teknologi
    • Artificial Intelligence
    • Big Data
    • Blockchain
    • Cloud
    • Transformasi Digital
    • Internet of Things
  • Start Up
  • Event
Cek Fakta

© 2023 digitalbisnis.id - Create with coffee.