• Tentang Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Disclaimer
  • Hubungi Kami
Monday, June 8, 2026
  • Login
digitalbisnis.id
  • Bisnis
    • Digital Marketing
    • Start Up
  • Gadget & App
    • Gadget
      • App
      • Mobile
      • Komputer
    • Software
  • Teknologi
    • Artificial Intelligence
    • Big Data
    • Blockchain
    • Cloud
    • Transformasi Digital
    • Internet of Things
  • Start Up
  • Event
Cek Fakta
No Result
View All Result
  • Bisnis
    • Digital Marketing
    • Start Up
  • Gadget & App
    • Gadget
      • App
      • Mobile
      • Komputer
    • Software
  • Teknologi
    • Artificial Intelligence
    • Big Data
    • Blockchain
    • Cloud
    • Transformasi Digital
    • Internet of Things
  • Start Up
  • Event
Cek Fakta
No Result
View All Result
digitalbisnis.id
No Result
View All Result
Home Cek Fakta

Keliru: Indonesia Meninggalkan US$ untuk Memperkuat Rupiah

digitalbisnis by digitalbisnis
June 8, 2026
in Cek Fakta
465
SHARES
1.5k
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Narasi

Beredar sebuah informasi di media sosial dan pesan berantai yang mengklaim bahwa Indonesia telah secara fundamental “meninggalkan Dolar AS (US$)” sebagai bagian dari strategi untuk memperkuat nilai tukar Rupiah. Klaim ini menyebar luas, menimbulkan pertanyaan dan kebingungan di kalangan masyarakat mengenai kebijakan ekonomi moneter Indonesia.

Narasi yang beredar secara spesifik menyatakan: “Indonesia dengan berani mengambil langkah besar: meninggalkan penggunaan Dolar AS untuk transaksi dan cadangan negara demi memperkuat Rupiah secara drastis. Ini adalah terobosan yang akan mengubah peta kekuatan ekonomi regional dan global, dan membuat Rupiah menjadi mata uang yang paling dicari.” Beberapa versi lain juga menyebutkan bahwa langkah ini merupakan bentuk perlawanan terhadap dominasi dolar AS dan upaya untuk mencapai kedaulatan ekonomi penuh.

Table of Contents

Toggle
  • Narasi
  • Penelusuran Fakta
  • Kesimpulan

Penelusuran Fakta

Sebagai jurnalis investigasi senior di digitalbisnis.id dengan pengalaman lebih dari satu dekade dalam memverifikasi informasi, tim kami segera melakukan penelusuran mendalam terhadap klaim yang beredar. Metode verifikasi kami meliputi analisis kebijakan resmi pemerintah dan Bank Indonesia, peninjauan pernyataan resmi dari pejabat terkait, serta perbandingan informasi dari berbagai sumber terpercaya, termasuk lembaga pemeriksa fakta independen dan media massa kredibel.

Penelusuran awal menunjukkan bahwa klaim “Indonesia meninggalkan Dolar AS” adalah sebuah interpretasi yang keliru dan menyesatkan dari kebijakan ekonomi moneter yang sedang berjalan. Faktanya, Bank Indonesia (BI) dan pemerintah memiliki program yang disebut ‘Local Currency Transaction’ (LCT) atau Transaksi Mata Uang Lokal. Program ini bertujuan untuk mendorong penggunaan mata uang lokal dalam transaksi perdagangan dan investasi bilateral dengan negara-negara mitra tertentu, seperti Malaysia, Thailand, Jepang, dan Tiongkok. Ini bukanlah upaya meninggalkan atau membuang Dolar AS secara menyeluruh dari sistem keuangan Indonesia.

Mengapa klaim ini keliru? Mari kita tinjau dengan logika sebab-akibat yang jelas:

  1. Sebab (Klaim Hoax): Indonesia ‘meninggalkan US$’ secara total dan unilateral.
    Akibat (Klaim Hoax): Rupiah ‘menguat drastis’ karena tidak lagi terikat pada US$ dan menjadi mata uang dominan.

    Fakta: Indonesia tidak ‘meninggalkan’ Dolar AS. Dolar AS tetap menjadi mata uang cadangan devisa yang sangat penting dan masih digunakan secara luas dalam transaksi internasional yang tidak tercakup dalam skema LCT. Bank Indonesia secara konsisten mengelola cadangan devisa, di mana Dolar AS menjadi komponen terbesar, untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan. Mencampakkan Dolar AS secara tiba-tiba dan menyeluruh tanpa perencanaan yang matang akan menyebabkan gejolak ekonomi yang parah, ketidakpastian pasar, dan devaluasi Rupiah yang signifikan, bukan penguatan. Kebijakan moneter BI diarahkan untuk stabilitas, bukan tindakan radikal yang berisiko.
  2. Sebab (Kebijakan Sesungguhnya): Indonesia menerapkan skema LCT dengan negara-negara mitra melalui kesepakatan bilateral.
    Akibat (Tujuan LCT yang Sebenarnya):

    • Mengurangi Ketergantungan pada Dolar AS secara bertahap: Tujuan LCT bukanlah menghilangkan, melainkan mengurangi eksposur terhadap fluktuasi Dolar AS untuk transaksi bilateral spesifik. Ini membantu melindungi ekonomi dari volatilitas kurs USD global dan memperkuat ketahanan eksternal.
    • Efisiensi Transaksi: Dengan menggunakan mata uang lokal dalam perdagangan dan investasi bilateral, biaya konversi valuta asing (FX) dapat ditekan. Ini membuat transaksi menjadi lebih efisien dan kompetitif bagi pelaku usaha.
    • Meningkatkan Stabilitas Rupiah Jangka Panjang: Dengan mengurangi permintaan Dolar AS dalam transaksi bilateral yang masuk dalam skema LCT, tekanan terhadap Rupiah dapat berkurang. Ini berkontribusi pada stabilitas nilai tukar Rupiah dalam jangka panjang. Namun, ini adalah efek gradual dan struktural, bukan ‘penguatan drastis’ instan yang diakibatkan oleh ‘peninggalan’ US$.
    • Mendukung Integrasi Ekonomi Regional: LCT memperdalam pasar keuangan domestik dan regional, serta mendukung stabilitas keuangan di kawasan, yang sejalan dengan inisiatif konektivitas finansial ASEAN.

    Perlu ditekankan bahwa LCT adalah kebijakan yang bersifat selektif, bertahap, dan berdasarkan kesepakatan bilateral, berfokus pada kemitraan antar negara, bukan penolakan unilateral terhadap Dolar AS di semua lini. Cadangan devisa yang didominasi Dolar AS masih menjadi pilar penting stabilitas ekonomi Indonesia. Penguatan Rupiah adalah tujuan Bank Indonesia, namun dicapai melalui berbagai instrumen kebijakan moneter yang prudent, intervensi pasar yang terukur, dan manajemen likuiditas, bukan dengan ‘meninggalkan’ US$. Kebijakan LCT hanya salah satu instrumen pendukung dalam strategi jangka panjang tersebut untuk mencapai stabilitas dan ketahanan ekonomi yang lebih baik.

Dalam konteks yang lebih luas, Bank Indonesia melalui berbagai pernyataan resminya, seperti yang dapat ditemukan di situs web mereka, secara konsisten menggarisbawahi pentingnya menjaga stabilitas Rupiah melalui kebijakan moneter yang hati-hati dan koordinasi yang erat dengan pemerintah. Tidak ada pernyataan resmi yang mendukung klaim bahwa Indonesia akan meninggalkan US$ sebagai mata uang cadangan devisa atau alat transaksi internasional secara menyeluruh. Upaya diversifikasi mata uang transaksi melalui LCT adalah strategi yang terukur, transparan, dan telah dijelaskan secara rinci kepada publik.

Kesimpulan

Berdasarkan penelusuran fakta yang komprehensif, dapat disimpulkan bahwa klaim yang menyatakan Indonesia meninggalkan Dolar AS (US$) untuk memperkuat Rupiah adalah narasi yang keliru dan menyesatkan. Klaim ini merupakan salah tafsir terhadap kebijakan Transaksi Mata Uang Lokal (LCT) yang diterapkan Bank Indonesia untuk tujuan diversifikasi dan efisiensi transaksi bilateral dengan negara mitra tertentu, bukan pengabaian total Dolar AS dari sistem keuangan Indonesia.

Dilansir dari hasil pemeriksaan fakta Tempo.co, informasi tersebut dinyatakan keliru.

Cek Sumber Asli

Tags: Cek Faktaindonesia
Previous Post

Menyesatkan: Rupiah Lemah, Indonesia Untung

digitalbisnis

digitalbisnis

Discussion about this post

Market

Crypto markets by TradingView
digitalbisnis.id

© 2023 digitalbisnis.id - Create with coffee.

  • Bisnis
  • Gadget & App
  • Teknologi
  • Start Up
  • Event

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Bisnis
    • Digital Marketing
    • Start Up
  • Gadget & App
    • Gadget
      • App
      • Mobile
      • Komputer
    • Software
  • Teknologi
    • Artificial Intelligence
    • Big Data
    • Blockchain
    • Cloud
    • Transformasi Digital
    • Internet of Things
  • Start Up
  • Event
Cek Fakta

© 2023 digitalbisnis.id - Create with coffee.