digitalbisnis.id – Sebagai Jurnalis Investigasi Senior di digitalbisnis.id, dengan pengalaman lebih dari satu dekade dalam memverifikasi informasi, kami selalu berpegang teguh pada prinsip akurasi dan kebenaran. Di era disinformasi yang kian masif, kemampuan untuk menyaring fakta dari fiksi adalah krusial. Kali ini, tim kami menyoroti sebuah klaim yang beredar luas dan berpotensi menimbulkan kegaduhan publik.
Narasi
Beredar sebuah informasi di media sosial dan pesan berantai yang mengklaim bahwa Amerika Serikat (AS) akan mengambil alih Selat Malaka. Narasi ini seringkali disertai dengan gambar pertemuan antara pejabat tinggi AS dan Malaysia, lalu dibumbui dengan konteks bahwa langkah ini diambil AS untuk mencegah pengaruh Tiongkok dan mengamankan jalur pelayaran global. Sebuah postingan yang viral menyatakan, “Amerika Serikat Bakal Ambil Alih Selat Malaka. Ini adalah bagian dari strategi untuk membendung pengaruh Tiongkok di kawasan Indo-Pasifik serta menjamin keamanan jalur logistik global yang vital. Pejabat tinggi AS dikabarkan telah membahas rencana ini dengan para pemimpin regional.”
Penelusuran Fakta
Tim investigasi digitalbisnis.id segera melakukan penelusuran mendalam terhadap klaim tersebut. Langkah pertama adalah mengidentifikasi asal-usul gambar yang menyertai narasi. Gambar tersebut memang menunjukkan Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken dan Menteri Pertahanan AS Lloyd Austin tengah berdiskusi dengan pejabat tinggi Malaysia. Namun, konteks dan isi diskusi yang diklaim dalam narasi yang beredar adalah manipulasi informasi yang berbahaya.
Faktanya, pertemuan yang dimaksud dalam gambar tersebut berlangsung pada 28 Juli 2021 di Kuala Lumpur, Malaysia. Saat itu, Blinken dan Austin memang bertemu dengan Menteri Luar Negeri Malaysia Hishammuddin Hussein dan Menteri Pertahanan Ismail Sabri Yaakob. Pertemuan tersebut merupakan bagian dari tur diplomatik yang lebih luas oleh kedua pejabat AS di Asia Tenggara. Tujuan utama kunjungan mereka adalah untuk memperkuat kemitraan strategis dengan negara-negara di kawasan, membahas kerja sama ekonomi, respons terhadap pandemi COVID-19, dan isu-isu keamanan regional. Namun, tidak ada satu pun laporan resmi dari kedua belah pihak, maupun dari media internasional yang kredibel seperti Associated Press, Reuters, atau BBC, yang menyebutkan adanya pembahasan atau rencana mengenai “pengambilalihan” Selat Malaka oleh Amerika Serikat.
Klaim mengenai AS akan mengambil alih Selat Malaka adalah sangat tidak berdasar dan melanggar prinsip dasar hukum internasional serta kedaulatan negara. Selat Malaka adalah jalur air internasional yang vital, namun sebagian besar wilayahnya merupakan perairan teritorial Indonesia, Malaysia, dan Singapura. Sesuai dengan Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hukum Laut (UNCLOS), kedaulatan atas perairan teritorial diakui sepenuhnya oleh negara-negara pesisir. Setiap “pengambilalihan” oleh kekuatan asing tanpa persetujuan jelas dari negara-negara pemilik kedaulatan akan dianggap sebagai tindakan agresi dan pelanggaran berat terhadap hukum internasional, yang pastinya akan memicu protes keras dan konflik geopolitik berskala besar. AS, meskipun merupakan kekuatan maritim global, beroperasi di bawah kerangka kebebasan navigasi internasional, bukan dengan metode pendudukan teritorial di jalur pelayaran vital milik negara berdaulat.
Logika sebab-akibat di sini sangat jelas:
Sebab: Pejabat tinggi AS melakukan kunjungan diplomatik ke Malaysia untuk memperkuat kemitraan dan membahas berbagai isu bilateral serta regional.
Akibat (seharusnya): Kemitraan diplomatik dan kerja sama di berbagai bidang semakin kuat, serta pertukaran pandangan mengenai isu-isu bersama.
Akibat (yang diklaim hoax): AS berencana mengambil alih Selat Malaka.
Penyimpangan antara sebab dan akibat yang diklaim dalam narasi hoax ini menunjukkan manipulasi informasi. Kunjungan diplomatik rutin, yang bertujuan membangun hubungan dan stabilitas, disalahartikan dan dibengkokkan menjadi klaim agresif yang bertentangan dengan prinsip-prinsip kedaulatan dan hukum internasional. Klaim semacam ini seringkali bertujuan untuk menciptakan ketegangan, menyebarkan ketidakpercayaan, atau memprovokasi sentimen anti-asing di tengah masyarakat. Perlu diingat, kebijakan luar negeri AS di Indo-Pasifik berfokus pada aliansi, kemitraan strategis, dan kebebasan navigasi, bukan pada pendudukan paksa wilayah berdaulat.
Kesimpulan
Berdasarkan penelusuran fakta yang komprehensif, klaim yang menyatakan bahwa Amerika Serikat bakal mengambil alih Selat Malaka adalah tidak benar. Informasi tersebut merupakan disinformasi yang memutarbalikkan konteks pertemuan diplomatik antara AS dan Malaysia. Tidak ada bukti valid atau laporan dari sumber kredibel yang mendukung narasi tersebut, dan klaim tersebut jelas bertentangan dengan prinsip kedaulatan internasional. Dilansir dari hasil pemeriksaan fakta TurnBackHoax.ID, informasi tersebut dinyatakan Salah.


Discussion about this post