• Tentang Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Disclaimer
  • Hubungi Kami
Friday, May 8, 2026
  • Login
digitalbisnis.id
  • Bisnis
    • Digital Marketing
    • Start Up
  • Gadget & App
    • Gadget
      • App
      • Mobile
      • Komputer
    • Software
  • Teknologi
    • Artificial Intelligence
    • Big Data
    • Blockchain
    • Cloud
    • Transformasi Digital
    • Internet of Things
  • Start Up
  • Event
Cek Fakta
No Result
View All Result
  • Bisnis
    • Digital Marketing
    • Start Up
  • Gadget & App
    • Gadget
      • App
      • Mobile
      • Komputer
    • Software
  • Teknologi
    • Artificial Intelligence
    • Big Data
    • Blockchain
    • Cloud
    • Transformasi Digital
    • Internet of Things
  • Start Up
  • Event
Cek Fakta
No Result
View All Result
digitalbisnis.id
No Result
View All Result
Home Cek Fakta

[SALAH] Indonesia Pimpin Negara ASEAN Rebut Laut China Selatan

digitalbisnis by digitalbisnis
May 7, 2026
in Cek Fakta
465
SHARES
1.5k
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Verifikasi Fakta: Klaim Indonesia Pimpin ASEAN Rebut Laut China Selatan

body { font-family: ‘Segoe UI’, Tahoma, Geneva, Verdana, sans-serif; line-height: 1.6; color: #333; margin: 20px; max-width: 800px; margin-left: auto; margin-right: auto; }
h1, h2 { color: #0056b3; }
a { color: #007bff; text-decoration: none; }
a:hover { text-decoration: underline; }
strong { font-weight: bold; }

Table of Contents

Toggle
  • Narasi
  • Penelusuran Fakta
  • Kesimpulan

Narasi

Beredar sebuah informasi di media sosial dan pesan berantai yang mengklaim bahwa Indonesia memimpin negara-negara ASEAN untuk merebut Laut China Selatan. Klaim ini menyiratkan adanya aliansi militer atau politik yang agresif dipimpin oleh Indonesia untuk mengambil alih wilayah perairan yang sedang disengketakan tersebut.

Narasi yang beredar tersebut menimbulkan kegelisahan publik karena mengesankan potensi konflik bersenjata besar di kawasan, yang melibatkan Indonesia secara langsung sebagai pemimpin upaya tersebut.

Penelusuran Fakta

Sebagai jurnalis investigasi senior dengan pengalaman lebih dari satu dekade dalam memverifikasi informasi, tim digitalbisnis.id melakukan penelusuran mendalam terhadap klaim sensitif ini. Kami mengkaji berbagai sumber primer dan sekunder, mulai dari pernyataan resmi pemerintah, dokumen kebijakan luar negeri, hingga analisis dari lembaga riset geopolitik kredibel.

Pertama, kami mengkaji posisi resmi Pemerintah Indonesia terkait isu Laut China Selatan. Sejak lama, Indonesia secara konsisten menyatakan diri sebagai negara non-klaiman dalam sengketa teritorial di Laut China Selatan, khususnya terkait klaim atas gugusan kepulauan Spratly dan Paracel yang menjadi inti sengketa beberapa negara. Posisi Indonesia sebatas mempertahankan kedaulatan dan hak berdaulat di Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Natuna, yang sebagian kecilnya tumpang tindih dengan klaim ‘sembilan garis putus-putus’ Tiongkok. Fokus Indonesia adalah penegakan hukum di ZEE-nya, bukan klaim teritorial atas wilayah yang disengketakan negara lain.

Kebijakan luar negeri Indonesia yang ‘bebas aktif’ secara tegas menempatkan penyelesaian sengketa melalui dialog, diplomasi damai, dan kepatuhan terhadap hukum internasional sebagai prioritas utama. Indonesia secara historis justru berperan sebagai fasilitator diskusi informal mengenai Laut China Selatan, bukan sebagai pemimpin koalisi militer atau politik yang bersifat agresif. Narasi yang menyebut Indonesia memimpin upaya ‘merebut’ sangat bertentangan dengan landasan diplomasi yang telah puluhan tahun dipegang teguh dan terbukti menjaga stabilitas kawasan.

Selanjutnya, kami menelaah peran dan posisi ASEAN sebagai organisasi regional. ASEAN menjunjung tinggi prinsip non-intervensi dan penyelesaian damai atas perselisihan. Sebagai sebuah organisasi, ASEAN tidak memiliki mekanisme atau mandat untuk membentuk aliansi militer guna merebut wilayah dari negara lain. Sebaliknya, upaya ASEAN dalam konteks Laut China Selatan berfokus pada perumusan Code of Conduct (COC) yang mengikat secara hukum, serta Deklarasi Perilaku Para Pihak (DOC). Kedua inisiatif ini bertujuan untuk mencegah eskalasi konflik, mempromosikan pembangunan kepercayaan, dan menjaga stabilitas regional melalui dialog. Klaim bahwa ASEAN secara kolektif berupaya merebut Laut China Selatan adalah penyimpangan serius dari piagam, tujuan inti, dan mekanisme pengambilan keputusan organisasi tersebut yang mengedepankan konsensus.

Penggunaan istilah ‘merebut’ dalam klaim ini sangat misleading dan memicu interpretasi yang keliru. Istilah ini menyiratkan tindakan agresi militer atau politik yang bertentangan dengan hukum internasional, Piagam PBB, dan prinsip-prinsip hubungan antarnegara yang damai. Laut China Selatan adalah wilayah yang kompleks dengan klaim tumpang tindih dari berbagai negara, termasuk Tiongkok, Vietnam, Filipina, Malaysia, Brunei, dan Taiwan. Tidak ada konsensus di antara negara-negara ASEAN, apalagi niat, untuk melakukan tindakan agresif berskala besar untuk ‘merebut’ seluruh wilayah tersebut. Tindakan semacam itu akan memicu konflik berskala besar dan merusak perdamaian serta stabilitas global.

Ada kemungkinan narasi ini muncul dari misinterpretasi terhadap berita atau diskusi tentang peningkatan kerja sama maritim antarnegara ASEAN, latihan bersama untuk menjaga keamanan laut, atau upaya diplomasi untuk menanggapi insiden di Laut China Selatan. Namun, kegiatan-kegiatan ini selalu dalam koridor menjaga perdamaian, keamanan maritim, dan penegakan hukum di wilayah yurisdiksi masing-masing, bukan untuk merebut wilayah sengketa secara ofensif atau memimpin upaya militeristik.

Berdasarkan penelusuran mendalam terhadap pernyataan resmi pemerintah, dokumen kebijakan luar negeri, serta laporan dari lembaga riset kredibel, tidak ditemukan satu pun bukti atau indikasi yang mendukung klaim bahwa Indonesia memimpin negara-negara ASEAN dalam upaya ‘merebut’ Laut China Selatan. Informasi ini sepenuhnya tidak berdasar dan bertentangan dengan fakta yang ada.

Kesimpulan

Klaim yang menyatakan Indonesia memimpin negara-negara ASEAN untuk merebut Laut China Selatan adalah tidak benar. Indonesia tidak memiliki klaim teritorial di Laut China Selatan selain ZEE Natuna, dan politik luar negerinya mengutamakan diplomasi damai. ASEAN juga tidak pernah membentuk aliansi militer untuk merebut wilayah. Informasi yang beredar tersebut merupakan disinformasi yang berpotensi menimbulkan kesalahpahaman dan kegelisahan publik.

Dilansir dari hasil pemeriksaan fakta TurnBackHoax.ID, informasi tersebut dinyatakan Salah.

Cek Sumber Asli

Tags: Cek Faktaindonesia
Previous Post

Amunisi Cerdas AS Senilai Ratusan Juta Dolar Siap Perkuat Lini Depan Ukraina: Analisis Dampak Strategis

Next Post

[PENIPUAN] Tautan Pendaftaran Sub Agen LPG

digitalbisnis

digitalbisnis

Next Post

[PENIPUAN] Tautan Pendaftaran Sub Agen LPG

Discussion about this post

Market

Crypto markets by TradingView
digitalbisnis.id

© 2023 digitalbisnis.id - Create with coffee.

  • Bisnis
  • Gadget & App
  • Teknologi
  • Start Up
  • Event

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Bisnis
    • Digital Marketing
    • Start Up
  • Gadget & App
    • Gadget
      • App
      • Mobile
      • Komputer
    • Software
  • Teknologi
    • Artificial Intelligence
    • Big Data
    • Blockchain
    • Cloud
    • Transformasi Digital
    • Internet of Things
  • Start Up
  • Event
Cek Fakta

© 2023 digitalbisnis.id - Create with coffee.