Sebagai Jurnalis Investigasi Senior di digitalbisnis.id dengan pengalaman lebih dari satu dekade, saya telah memverifikasi berbagai klaim yang beredar di ruang publik. Tugas kami adalah menyajikan fakta yang akurat dan membongkar narasi yang menyesatkan. Kali ini, kami akan menelusuri klaim mengenai kebijakan mata uang Indonesia yang beredar luas.
Narasi
Beredar sebuah informasi di media sosial dan pesan berantai yang mengklaim bahwa Indonesia telah secara resmi menghentikan penggunaan Dolar Amerika Serikat (USD) dan beralih sepenuhnya ke mata uang Yuan China. Narasi ini seringkali dilengkapi dengan kutipan atau foto figur publik, menimbulkan kesan legitimasi yang kuat di mata publik. Salah satu bentuk klaim yang paling sering ditemui adalah dalam format judul berita yang bombastis atau tangkapan layar media sosial yang secara tegas menyatakan:
“[SALAH] Indonesia Stop Pakai US$, Purbaya Pindah ke Yuan China”
Klaim ini secara spesifik menyoroti peran ‘Purbaya’—yang kemungkinan besar merujuk pada Purbaya Yudhi Sadewa, salah satu tokoh penting dalam kebijakan ekonomi dan keuangan Indonesia—sebagai arsitek di balik kebijakan drastis tersebut. Informasi ini menyebar dengan cepat, memicu diskusi dan kebingungan di kalangan masyarakat mengenai arah kebijakan moneter dan fiskal negara.
Penelusuran Fakta
Untuk memverifikasi klaim ‘[SALAH] Indonesia Stop Pakai US$, Purbaya Pindah ke Yuan China’, tim investigasi digitalbisnis.id melakukan penelusuran mendalam terhadap kebijakan moneter dan pernyataan resmi dari otoritas terkait, termasuk Bank Indonesia (BI) dan Kementerian Keuangan. Hasil penelusuran kami menunjukkan bahwa klaim tersebut adalah salah dan menyesatkan, didasari oleh penafsiran yang keliru atau disinformasi.
Penyebab utama dari disinformasi ini adalah adanya inisiatif nyata yang sedang digalakkan oleh Bank Indonesia, yaitu Local Currency Settlement (LCS) atau Kerangka Kerja Penyelesaian Transaksi Menggunakan Mata Uang Lokal. Inisiatif LCS ini bertujuan untuk memfasilitasi perdagangan dan investasi bilateral antarnegara mitra menggunakan mata uang lokal masing-masing, bukan USD. Ini bukan berarti Indonesia “menghentikan” penggunaan USD secara keseluruhan, melainkan “diversifikasi” penggunaan mata uang dalam transaksi internasional tertentu untuk mengurangi ketergantungan pada mata uang tunggal dan mengelola risiko nilai tukar.
Sebagai contoh, Indonesia telah menjalin kerja sama LCS dengan beberapa negara seperti Tiongkok, Jepang, Thailand, dan Malaysia. Tujuan dari program ini sangat jelas: meningkatkan efisiensi transaksi, mengurangi biaya konversi valuta asing, serta memperdalam pasar keuangan domestik. Kebijakan ini merupakan langkah strategis untuk memperkuat stabilitas ekonomi, bukan keputusan drastis untuk meninggalkan USD sebagai mata uang cadangan devisa atau sebagai alat pembayaran utama dalam perdagangan global.
Faktanya, Dolar Amerika Serikat masih menjadi mata uang cadangan devisa utama bagi sebagian besar negara di dunia, termasuk Indonesia, dan masih digunakan secara luas dalam transaksi perdagangan internasional. Bank Indonesia secara konsisten menyatakan komitmennya terhadap diversifikasi cadangan devisa untuk menjaga stabilitas makroekonomi, yang berarti tidak hanya mengandalkan USD, tetapi juga mata uang utama lainnya seperti Euro, Yen, dan juga Yuan sebagai bagian dari portofolio yang seimbang. Kebijakan diversifikasi ini adalah praktik standar bagi bank sentral di seluruh dunia untuk memitigasi risiko.
Adapun peran ‘Purbaya’ yang disebut dalam narasi, kemungkinan besar merujuk pada Purbaya Yudhi Sadewa, yang saat ini menjabat sebagai Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia. Pernyataan Purbaya Yudhi Sadewa dan para pejabat ekonomi lainnya selalu sejalan dengan upaya diversifikasi dan penguatan stabilitas mata uang lokal, bukan menghentikan penggunaan USD. Tidak ada pernyataan resmi dari Purbaya atau Bank Indonesia yang mengindikasikan bahwa Indonesia akan menghentikan penggunaan Dolar AS dan beralih sepenuhnya ke Yuan China. Pernyataan yang mungkin pernah disampaikan oleh Purbaya, atau pejabat terkait lainnya, tentang peningkatan penggunaan mata uang lokal dalam transaksi bilateral telah disalahartikan dan dibesar-besarkan oleh pihak yang menyebarkan hoaks ini.
Secara logis, menghentikan penggunaan USD secara mendadak akan menimbulkan gejolak ekonomi yang sangat besar, mengingat perannya sebagai mata uang global dan instrumen utama dalam sebagian besar perdagangan dan investasi internasional Indonesia. Kebijakan semacam itu akan memiliki dampak yang merugikan pada rantai pasokan, harga komoditas, dan stabilitas finansial secara keseluruhan. Oleh karena itu, klaim ini tidak berdasar secara ekonomi dan tidak didukung oleh kebijakan atau pernyataan resmi pemerintah maupun Bank Indonesia.
Kesimpulan
Berdasarkan penelusuran fakta yang komprehensif, klaim yang menyatakan bahwa Indonesia telah menghentikan penggunaan Dolar AS dan beralih sepenuhnya ke Yuan China adalah informasi yang tidak benar. Klaim ini merupakan distorsi dari kebijakan diversifikasi mata uang dan inisiatif Local Currency Settlement (LCS) yang bertujuan memperkuat stabilitas ekonomi dan efisiensi transaksi bilateral, bukan untuk meniadakan peran Dolar AS. Tidak ada pernyataan resmi dari otoritas keuangan Indonesia yang mendukung narasi tersebut. Dilansir dari hasil pemeriksaan fakta TurnBackHoax.ID, informasi tersebut dinyatakan Salah.


Discussion about this post