Narasi
Beredar sebuah informasi di media sosial dan pesan berantai yang mengklaim bahwa Calon Presiden terpilih, Prabowo Subianto, telah meminta Menteri Keuangan untuk mengajukan utang kepada China. Klaim ini secara spesifik menyebutkan bahwa pinjaman tersebut akan digunakan untuk membiayai program andalannya, “Makan Bergizi Gratis” (MBG), yang direncanakan akan menjadi salah satu prioritas utama pemerintahannya.
Narasi yang beredar, seringkali disertai dengan tangkapan layar atau kutipan yang tidak berdasar, menggambarkan seolah-olah permintaan ini adalah langkah mendesak dan telah dilakukan secara langsung. Salah satu contoh konten yang menyebar luas mengklaim:
“Mengejutkan! Prabowo Dikabarkan Mendesak Menkeu Ajukan Utang Triliunan ke China Demi Wujudkan Makan Bergizi Gratis Tanpa Tunggu Pelantikan. Sumber terdekat Istana bocorkan adanya perintah mendadak.”
Pesan ini menyebar dengan cepat, menimbulkan berbagai pertanyaan dan kekhawatiran di kalangan publik mengenai keberlanjutan fiskal negara serta transparansi dalam pengelolaan kebijakan ekonomi pemerintahan yang akan datang, terutama terkait sumber pendanaan program prioritas.
Penelusuran Fakta
Sebagai jurnalis investigasi senior di digitalbisnis.id dengan pengalaman lebih dari satu dekade dalam memverifikasi informasi, tim kami segera melakukan penelusuran mendalam terhadap klaim yang beredar. Metode verifikasi kami melibatkan pengecekan silang terhadap pernyataan resmi dari pihak berwenang, data fiskal pemerintah, dan konsultasi dengan pakar ekonomi serta pejabat terkait, untuk memastikan validitas setiap informasi yang kami terima.
Langkah pertama dalam penelusuran ini adalah mencari pernyataan resmi dari Calon Presiden terpilih Prabowo Subianto atau tim komunikasinya mengenai rencana pembiayaan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Hasilnya, tidak ditemukan adanya pernyataan resmi yang mengonfirmasi permintaan semacam itu. Sepanjang masa kampanye dan setelah penetapan hasil pemilu, Prabowo maupun timnya secara konsisten menegaskan komitmen untuk mencari sumber pembiayaan yang prudent dan berkelanjutan. Fokus utama yang selalu ditekankan adalah optimalisasi anggaran domestik dan efisiensi belanja negara, bukan secara spesifik mengandalkan utang luar negeri dari satu negara tertentu secara mendadak untuk program yang masih dalam tahap perencanaan.
Kedua, kami menelusuri kebijakan dan prosedur resmi terkait pengajuan utang negara di Indonesia. Pengajuan utang luar negeri, apalagi dalam skala besar dan dari negara tertentu seperti China, melibatkan proses yang sangat panjang dan berlapis. Proses ini sepenuhnya berada di bawah kewenangan Kementerian Keuangan, dengan persetujuan dan pengawasan ketat dari Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), dan harus sesuai dengan kerangka makroekonomi serta batas utang yang telah ditetapkan dalam Undang-Undang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Seorang calon presiden terpilih, meskipun akan segera menjabat, tidak memiliki otoritas untuk secara langsung “meminta” Menteri Keuangan mengajukan utang sedemikian rupa tanpa melalui prosedur formal yang berlaku dan persetujuan lembaga legislatif.
Kementerian Keuangan, melalui Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, selama ini secara konsisten menjaga transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan utang negara. Hingga saat ini, tidak ada satu pun pernyataan resmi dari Kementerian Keuangan yang mengindikasikan adanya permintaan dari Prabowo untuk mengajukan utang ke China khusus untuk program MBG. Bahkan, wacana pendanaan MBG sendiri masih dalam tahap kajian dan formulasi kebijakan, yang diperkirakan akan dimasukkan dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) tahun anggaran berikutnya setelah mempertimbangkan berbagai aspek fiskal, proyeksi ekonomi, dan prioritas pembangunan secara menyeluruh.
Logika sebab-akibat menunjukkan bahwa klaim ini sama sekali tidak berdasar. Sebab, prosedur pengajuan utang negara sangat terstruktur, transparan, melibatkan banyak pihak, serta memerlukan persetujuan legislatif. Akibatnya, tidak mungkin permintaan mendadak semacam ini dapat terjadi tanpa jejak atau pernyataan resmi yang valid dari pihak-pihak berwenang. Lebih lanjut, kebijakan fiskal dan utang adalah domain Kementerian Keuangan yang beroperasi berdasarkan perencanaan jangka menengah dan panjang, bukan berdasarkan “perintah mendadak” dari individu tertentu, apalagi untuk pembiayaan program spesifik yang belum sepenuhnya matang secara kebijakan dan skema pendanaannya.
Selain itu, informasi mengenai pendanaan program Makan Bergizi Gratis yang beredar luas di media massa kredibel menunjukkan bahwa berbagai opsi sedang dipertimbangkan, termasuk realokasi anggaran dari pos-pos yang kurang prioritas dan peningkatan penerimaan negara. Semua opsi ini akan dibahas secara komprehensif dalam kerangka RAPBN, dengan fokus utama mencari solusi fiskal yang sehat, berkelanjutan, dan tidak memberatkan keuangan negara di masa depan.
Kesimpulan
Berdasarkan seluruh penelusuran fakta yang cermat dan mendalam yang dilakukan oleh tim digitalbisnis.id, klaim yang menyatakan bahwa Prabowo Subianto telah meminta Menteri Keuangan untuk mengajukan utang ke China demi membiayai program Makan Bergizi Gratis adalah tidak benar. Informasi ini tidak didukung oleh bukti konkret, bertentangan dengan prosedur serta kebijakan fiskal negara yang berlaku, dan merupakan misinformasi yang berpotensi menyesatkan publik. Masyarakat dihimbau untuk selalu memverifikasi setiap informasi yang diterima dari sumber-sumber resmi dan terpercaya sebelum mempercayai atau menyebarkannya.
Dilansir dari hasil pemeriksaan fakta TurnBackHoax.ID, informasi tersebut dinyatakan Salah.

Discussion about this post